Tuan Boska

Ehm, Bagaimana kabar tuan?

Apa kau tak mempunyai pengelihatanmu hingga tak bisa melihatku yang segar bugar ini

Kenapa tuan bertanya begitu, apa tuan tak mempunyai pengelihatan tuan, hingga tak bisa melihat bahwa saya punya pengelihatan?

Hah,,kau ini lancang , pengawal,bawa budak kurang ajar ini

Eit, tunggu tuan, bagaimana jika nanti saya jauh dari tuan, bukankah si peramal buta telah mengatakan jika kita berjauhan tuan, kota ini akan terkena bencana. Malapetaka menimpa kita semua

April, 2011


Apa dan Siapa yang Gila

Rambutnya sebahu dan acak-acakan, nampak tidak terawatt dalam waktu yang cukup lama. Kaki, tangan dan wajahnya kotor tanah dan debu hingga nampak kehitaman. Tubuhnya tertutup kain usang dan kumal hingga nampak tak pernah sedikitpun tercuci dan tersuci. Lelaki itu duduk di bawah pohon asem, di sebelah hotel dan bangunan belanda kawasan Malioboro. Ia menyapa, melambaikan tangannya pada saya dengan senyum dan salam. Saya hampir meneteskan air mata ketika itu. Mengingat setiap orang yang lewat pada umumnya merasa waras menyebuit-nyebutnya, memanggil-manggil nama kamum mereka dengan sebutan ”gila” meskipun mereka menyebutnya di dalam hati.

Siapa yang sebenarnya gila? Yang bernafsu memenuhi segala kebutuhan dan segala ketidakbutuhan dengan menghalalhkan segala cara atau yang menepikan segala kebutuhan dengan segala ketidakbutuhan secara semeleh dan rendah hati. Siapa yang disebut gila?sementara mereka yang mengira dirinya waras telah lupa pada apa sebenarnya yang dicari dan bagaimana memenuhinya. Sementara mereka yang mengira diri mereka waras tidak mampu lagi menahan keinginannya untuk berlebihan dalam segala hal.

Ia yang kulihat jauh di sana jauh lebih waras karena menyapa siapa saya yang lewat, ia melayangkan senyum tanpa perlu berfikir siapa saja, tanpa harus tahu siapa yang ia lihat, siapa yang ia temui, apakah itu pencuri atau ahli fikir, apakah cantik atau tidak cantik, apakah seksi atau tidak seksi, apakah cerdasatau dungu, kaya atau tidak kaya.

Sementara orang-orang waras, apakah mereka saling menbyapa meski telah lama mengenal?apakah mereka menunjukkan kasih sayang semama manusia meski tidak saling mengenal?bahkan ia pun lebih tahu hal itu dari pada orang-orang yang pendidikannya terlalu tinggi.

Ia yang kulihat disana jauh lebih waras karena tidak sibuk berprasangka, tidak sibuk memikirkan bagaimana harus mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari apa yang dilakukan, ia tak perlu korupsi seperti orang-orang yang katanya wareas dan berpendidikan. Ia tak perlu menerima suap karena apa yang ia kerjakan dan ia lihat cukup menjadi suap baginya.

Ia tak perlu memikirkan bagaimana membeli barang-barang baru, ia tak berpakaian segrlamour mungkin seperti yang difikirkan orang lalu lalang di depannya tanpa permisi. Ia tak perlu membuat diri semenarik mungkin tanpa cacat sedikitpun dengan pekaian yang harganya melebihi biaya hidup satu tahun bagi sebagian orang karena yang ia kenakan adalah pakaian paling sempurna yaitu pakaian kejujuran.

Ia tak perlu repot dengan gengsi, tidak perlu kemaruk dengan uang, tidak perlu pamer, tidak sibuk dengan citra diri. Ia sangat berbeda dengan orang-orang yang katanya berpendidikan tinggi dan sukses namun saling rebut kekuasaan. Apanya yang sukses?

Ia berbeda dengan ahli fikir yang suka berdebat hingga mulutnya berbusa, ia berbeda dengan ahli agama yang saling menghujat dan saling mengkafirkan.

Masih belum kulupa wajah itu, wajah paling teduh seantero malioboro. Orang-orang sibuk berjalan mengejar mal, hotel, baju dan perhiasan. Sementara wajah itu, ya, wajah tiu diacuhkan dan diludahi. diakah kekasihNya yang waras meski terpinggirkan dan dihujat disetiap hati orang-orang yang lewat di depannya/menunjuk-nunjuknya dari kejauhan sambil menertawakannya. Namun ia tidak marah atau mengeluh sedikitpun. Ia selalu gembira meski tak punya apa-apa, namun kenapa yang punya mobil, rumah mewah, dan kekuasaan masih saja marah dan cemberut serta mengeluhkan apa yang dimiliki. Sebenarnya apa dan siapa yang gila?

22 Sept 2011

Meningkat di Bulan Syawal

Waktu bergulir,dunia semakin cepat berlari hingga kita tak mampu mengejarnya. Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita atau kita atau kita yang berlalu meninggalkan dan melupakan ramadhan?

Syawal, ya, terkadang kita sering menafsirkan syawal semau kita. ”meningkat”, apakah benar peningkatan dalam taqwa?atau peningkatan porsi makan?peningkatan nafsu makan, nafsu membeli hape dan motor baru, nafsu menghujat, nafsu korupsi, nafsu membicarakan aib orang lain, nafsu berpuasa hingga kitapun sering menghujat orang yang tidak berpuasa pada bulan syawal dengan dalil-dalil yang memojokkan mereka dan dengan sindiran-sindiran kecut yang menyakitkan mereka.

Di televisi, saat ramadhan semua tayangan berbau puasa. Iklan, lawakan dan sinetron yang sok islami. Gosip yang sok islami pula. Mereka menayangkan perempuan-perempuan yang rela dilecehkan untuk berperan menjadi iblis dengan segala kedustaan dan kelicikannya.

Hanya saat ramadhan, organisasi, kampus dan media-media sibuk menyelenggarakan diskusi-diskusi bermuatan puasa. Namun saat syawal menggelar syawalan sebagai pembuka bulan foya-foya. Kembali pada fitrah yang ditafsirkan dengan ganjil. Fitrah yang mana?fitrah yang suci atau kotor? Kembali curang, kembali cuek pada tetangga, kembali pelit, kembali ngrasani, kembali berdusta, kembali berzina dengan gambar-gambar telanjang tanpa sadar diri sendiri sudah telanjang. Ha ha hai, khan ramadhan sudah lewat jadi nggak perlu mikirin ”malu kalau tidak puasa” (puasa sebagai trend dan gengsi dong?). dipikirnya sudah suci setelah ramadhan? Dipikirnya sudah sudah bebas melakukan kesalahan baru karena telah dimaafkan? Memangnya siapa kita ini?

Allah berkata dalam surat Al-Baqarah 183 bahwa tujuan puasa adalah agar kamu bertakwa. Bertaqwa yang seperti apa?

Saat ramadhan sudah pasti berpuasa, tapi puasa belum tentu ramadahan. Berpuasa sudah pasti berusaha mensucikan diri tpai bukan berarti sok suci sehingga merasa bertaqwa dan bebas menggurui orang-lain dengan cara-cara yang menyakitkan. Menang melawan hawa nafsu dan kembali suci itu hak Nya. Karena Dia tahu betul soal diri kalian ketika menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu sok suci-sucikan dirimu, Dia tahu betul siapa yang palingh bertaqwa. (An-Najm 32).

Lalu bagaimana mengejar ketertinggalan kita?kita berlari ke arah kemenangan modernisasi namun kita tidak sadar telah menuju kebinasaan masal. Peningkatan yang mana yang disebut-sebut dalam setiap ceramah syawalan jika realitanya kita jauh tertinggal?terhempas dalam ke sok sucian diri.

25 Syawal 1432H


Ekstase Kamar Tengah

Untuk alasan apapun, aku tidak pergi

Kepalaku sakit di kamar yang kupadamkan sejak senja

Sementara di luar udara menyergap kepala dan akal

Keinginan selalu menjelma keparat kecil yang tak habis-habis membuat derita

 

Di kamarku, langit lebih runtuh, kota lebih terbakar, dan penjara lebih penjara

Di kamarku, orang-orang lebih sakit dan brutal

Di kamarku, rencana-rencana berjalan di tempat

Sementara di luar, kaki-kaki telanjang dapat mencapai tinggi menara, gedung-gedung megah, rumah-rumah mewah juga pabrik-pabrik dan perpustakaan yang selalu ingin kubakar.

Di kamarku, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi lebih keparat, pemimpinnya brutal dan sakit, pengikutnya dusta amanah

Di kamarku, tembok-tembok akan lebih runtuh

 

Selalu, di kamarku lebih dari lumpur atau gempa bumi

Di kamarku, bencana lebih dahsyat,

Rembulan pecah, sementara di luar sinarnya begitu memukaumu

 

Di kamarku, gincu lebih merah dari darah

Hak sepatu lebih tinggi dari hak kaki yang tak sanggup lagi menginjak tanah

 

Di kamarku, kutikam dada kekasih dan kupenggal kepalanya dari belakang

Sementara di luar, mereka sibuk mengelus dada dan kening kekasihnya

 

Di kamarku, banyak lagak penjaga moral

 

Di kamarku do’a-do’a terkunci

Mati lebih mati daripada mati

Juli, 2010

 

 

Gerhana Bola

bulan abu

bulan di matamu

bola di rambut dan keningmu

bulan menjelma warung-warung bir dan mercury

bola menutup bulan 

di bentangan dadamu


Juli, 2010

Pesiar Malam yang Sepi Cahaya

Karena ekor senja

Selepas ashar aku pulang dari sore yang papa

Tanggalkan wajah-wajah yang belepotan debu

Dan setumpuk peristiwa yang lenyap di lidah cakrawala


Karena ekor senja, ku sadar

Matahari hanya kenangan

Bagi mereka yang lelap

Tinggalkan matahari yang tunduk sebagaimana mestinya


Karena ekor senja

di bawah lanskapNya

kita bergandeng menjemput rembulan


2010


Di Stasiun

Aku ketakutan

di stasiun bersamamu

setelah kamu membeli tiket

kamu benar-benar akan pulang

 

Kuharap kamu paham kenapa harus

aku yang mengantarmu

bukan karena aku senang

melainkan agar waktu

dapat kuulur sepanjang mungkin

membuatmu tertinggal kereta

dan tetap disini

 

Apa kamu pun mengerti

kenapa aku membeli Koran?

kupastikan kita dapat bicara

hingga tak mendengar lonceng

kereta yang menjemputmu

 

Kamu tetap pulang juga

 

Esok, entah kapan

aku berada di kursi ini lagi menyambutmu

agar aku merasa

kamu memang tak pergi

 

2010