pada larik hujan yang tanggal di bulan ini
ku titipkan selaksa rindu bagi senja di wajahmu
dan matamu yang ungu
2009
"hujan saja hari ini,tak kan ada yang menjahit langit..dan aku bukan malaikat kecil yang manis mengganti sajak saat mendung mulai menyergap wajahmu"
pada larik hujan yang tanggal di bulan ini
ku titipkan selaksa rindu bagi senja di wajahmu
dan matamu yang ungu
2009
Petang, seperti mimpi,
kita terpejam kemudian menjelma yang lainnya
sepertinya kita bukan yang ada
petang, seperti mimpi
setiap kita terbagun
seolah tersadar
kemudian hilang
mimpi, seperti petang
senjanya bertabur di kedalaman sunyi
petang, seperti abu
lengang disetiap tikungan
langit abu
malam, hujan bintangbintang
maka pada setiap sujud
kita rapalkan senandung sunyi
hingga ke dasar petang
barangkali selaksa purnama
bersinar dipadang do’a
petang ini,
kita hanya terpejam
sebentar
sesekali meratap sesuatu
lalu esok akan kembali
seperti muasalnya
setelah fajar menghantarkan hawanya
kemudian matahari menjulurkan lidahnya
2009
-Siti sukriyah
aku membaca selaut nyanyian
penjaga sungai-sungai dan lembah
dari bibir kekasihku
disetiap waktunya,
ia melewati ruang paling abu
dan menemukan ainul hayat
ia hidup
dari bibir kekasihku
maka yang kau buru
adalah ia, yang hidup di bumi berpasir merah
dan dari tepi zaman
yang membuat manusia berputarputar seperti pusaran gelombang,
akan kau temukan para prajurit menyesal
dengan zamrud dan yakut yang mereka ragukan
sekali lagi,
ia hidup
dari bibir kekasihku
2009
aku hilang peta, harta dan nama
meninggalkannya, seperti abu
seperti puisipuisi yang kacau
dan kini selepas kembaliku
ia menjelma kupukupu yang merawat puisi di taman kambojanya sendiri